Sepasang anak manusia
duduk tanpa kata dengan seribu gundah
salah seorang sibuk mencari rangkaian kata
yang lainnya risau membendung kegalauan
Rintik hujan seakan melantunkan alunan
penghantar susana hati sepasang insan
seiring setetes air mata tak kuasa tertahankan
wajah wanita itupun tertunduk
pria itu menatap nya lekat
bimbang pun menyelelimuti hati
kepastian yang hampir saja terlontar
terpaksa harus tertunda
“Jangan menangis…”
suara tegasnya melemah
wanita itu mengangkat wajahnya
menatap tajam dengan pilu dihatinya
“kau menahanku memangis saat kau mencengkram hatiku dan siap menghancurkannya?”
tida kata yang sanggup diucapkan lagi oleh sang lelaki
Sebuah helaan nafas membuka sebuah kalimat
“mungkin ini yang terbaik buat kita”, wajah lelaki itu tertunduk
seperti seekor singa betina yang dilukai wanita itu meninggikan suaranya
“baik untuk mu tidak berarti juga untukku”
Lelaki itu seperti terdorong pada sudut tanpa celah
“Cinta ini menyiksa ku”, suaranya parau tak bertenaga
keduanya terdiam lagi..mencerna kalimat yang baru saja terucap
lalu sang wanita menyentuh tangan lelaki dihadapannya
memandangnya dengan lembut, mengumpulkan sebuah daya dalam dirinya
“bukan cinta yang menyiksa mu sayang….
tapi kita yang menyiksa cinta ”
lelaki itu mengangkat wajahnya menatap wajah wanita dihadapannya
sebuah wajah yang sangat disayanginya
namun juga membuatnya selalu kehilangan udara untuk bernapas
wanita itupun menatap lekat lelaki dihadapannya
wajah yang sangat di sayanginya namun juga sering membuatnya
bagai berlayar ditengah ombak laut pasang
seorang pelayan mengantar secangkir kopi panas
dengan asap yang mengepul
yah mungkin cinta bagai kopi yang masih panas
kamu memesannya karena kamu menyukainya, namun bila kamu langsung meminumnya
bibirmu akan terseduh, dan kamupun dinding mulut mu akan merasa kebas
sehingga nikmat kopi itu tak kan lagi kamu rasakan
tapi bila kita memberi sedikit waktu menunggu panasnya reda
ditengah hujan yang membekukan tubuh ini, dia akan memberi kehangatan
kopi itu juga mungkin saja tak sepenuhnya sesempurna yang kamu inginkan
tapi kamu diberi kesempatan menambahkan gulanya, atau memberi sedikit susu
sebagai pemanis atau penambah rasa, hingga terwujud rasa yang kamu inginkan
setelah semua pas kau pun bisa menyeruputnya dengan nikmat
Sepasang manusia itu saling bertatapan..
dari mata keduanya terlihat aliran cinta
tapa kata, tapi hati mereka pasti sedang berbicara
lelaki itupun bertanya, “bisakah cinta memberi waktu untuk kita?”
senyumpun terkembang diwajah wanita itu
“Cinta selalu memberi kita waktu untuk mengerti tentangnya,
namun kita yang sering tak punya waktu untuk lebih mengerti”
dua wajah itupun mulai terlihat lebih cerah
wajah risau keduanya mulai sirna..dan mereka berdua pun bercengkrama
meneruskan cerita tentang cinta mereka yang hampir saja mereka akhiri
PS:
untuk sepasang kekasih di meja sebrang…siapapun kalian kuharap cerita kalian tak sependek cerita novel satu jilid…thanks buat inspirasinya yah… =D
June 16, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment