Bagai Centhini yang menyaksikan malam bergulir
dibalik tirai pemisah peraduan sang putri
kala memadu kasih dengan kisah sang pujaan hati
menuju satu mimpi milik para mempelai
Tanah menyerap tiap tetesan hujan
barisan kisah meresap dalam diri
melekat dalam dinding jiwa
membentuk serangkaian rasa juga pikir disudut raga
Telinga menghantar cerita
mata membawa lukisan
menggauli hati dan akal hingga berpeluh
lantunan malam membakar dingin malam
tak kuasa pun ingin bergeming
Menadah tiap kata dari bibir usia
menguliti hidup mengecap sari
mencumbui nafas hari tanpa henti
hingga cahaya menutup hari

