June 16, 2009

Maaf..

aku pernah tancapkan sebuah belati
belati yang tajam dengan mata yang berkilau
tepat dipusat kehidupan mu
cairan segar berwarna merah itupun mengalir
perlahan membentuk garis
melapisi sarafmu yang mengerang menahan perih
aku terdiam sedetik dua detik..
tubuhku kaku tak dapat bergerak
aku ingin berlari sejauh- jauhnya dari matamu
aura mu menghirup segala keberanianku untuk menatapmu
namun jiwa mu mendekapku dalam pelukmu
semakin aku ingin melepaskan diri
semakin erat hingga sesak rasanya

detik pun bergulir menjadi menit
kau tak bersuara, tidak mengerang
kamu diam..aku menanti..
kamu hanya menatapku..dalam..sedalam belati yang ku tancapkan
bicaralah!!!maki aku!!! jangan diam…

cairan hangat itu kini mengalir
bukan merah tetapi bening…
membentuk 2 buah garis hampir sejajar
dibawah kedua mataku..
semakin deras hingga akhirnya menyatu
hatiku seperti tersiram larutan asam
perih sekali rasanya

kedua kakiku pun melemah
tanpa kata kau merenggut segala dayaku
maaf…bibirku menggetarkan kata itu
dan kau akhiri guliran waktu dengan sebuah kata
“aku mengerti..sayang”…

0 comments: