August 03, 2009

Idealisme Yang Bertoleransi

Paling bahagia kalau kita bisa mengerjakan sesuatu yang kita senangi, dan paling etrsiksa kalau kita harus menjalani sesuatu yang nggak sesuai dengan kemauan kita...karena kebanyakan pasti bertentangan dengan hati nurani.
Tapi kadang dalam hidup susah untuk kita memilah hal untuk dijalani, biasanya untuk bisa survive yah orang ngambil keputusan untuk melakukan hal yang bertentangan dengan dirinya sendiri.

Buat gue sendiri punya idealisme dalam hidup itu jadi hal yang penting, karena gue pernah jalanin jadi orang yang harus survive dengan ngejalanin hal- hal yang bener2 bertolak belakang dengan diri gue. Gue juga dulu banyak ngalamin gimana sih berantakannya suatu hal gara2 ngikutin kehendak orang lain, dan ngebuang jauh2 namanya idealisme pribadi.

Gue kebetulan kawin sama seseorang yang sebenarnya sangat berpegang dengan idealisme nya, cuma beberapa tahun yang lalu, waktu kita baru nikah, dan kita harus berjuang bareng...akhirnya dia rela menaruh idealismenya, dan ini kita jalanin bareng berdua bukan hanya untuk setahun dua tahun tapi sampai lebih dari 5 tahun.
Bukan kami nggak bersyukur justru dalam tahun tahun tersebut kita berdua dapet banyak banget pelajaran yang sangat berharga. Dan yang pasti sangat berharga buat kita berdua adalah pentingnya punya prinsip dan idealisme dalam hidup dan menjadi sebuah pribadi.

Selama lebih dari 5 tahun kita nelen banyak hal yang seringkali bikin hati ngeronta, bikin kita kadang adu otot sama hati kecil, bikin kita harus nelen pil pahit berkali- kali, dan bikin cape hati, cuma entah masalah waktu atau memang proses, harus sampai selama itu untuk menentukan sikap.
Hidup tanpa idealisme selama lebih dari 5 tahun itu kalau dilihat dari segi materi wahhh sangat menjanjikan sekali, malah bisa terbilang mewah, bisa beli apa aja, bisa makan apa aja, pokoknya dalam soal materi angkanya ++ , tapi kalau dilihat dari segi batin bisa digambarin berdarah2 kali yah, kerja siang malem 25 jam sehari, 8 hari seminggu, 32 hari sebulan....nggak pernah ada waktu untuk keluarga, dan untuk kesenangan pribadi, semua prioritas utama harus kerjaan.

Yah semua hal di dunia pasti ada kurang dan lebih ...mengerjakan hal2 tersebut bukan berarti mengeluh, dari yang awalnya terpaksa sampai akhirnya lupa dengan jati diri sendiri, sampai akhirnya lupa sama pribadi kita karena kita maksa diri kita untuk membentuk sesuai yang orang mau ...sesuai tuntutan, sampai akhirnya lupa bertanya sama hati sendiri, "gimana kabarnya?"..

Dan untuk ngambil sikap untuk mengatakan "cukup" dengan sesuatu yang lebih dari 5 tahun berjalan itu, nggak segampang dan semudah itu dilakukan oleh diri sendiri dan untuk dapat diterima orang yang sudah terbiasa melihat sosok lakon yang udah kita mainin selama ini. Nggak gampang buat orang untuk menerima kata "tidak" dari bibir orang lain dimana yang terbiasa didengar adalah "ya", karena selalu ngerasa dibenarkan , sekalinya orang tidak setuju dengan dirinya langsung marah dan berusaha membenarkan, dan memaksa mulut orang lain bilang "setuju".

Yah kita berdua harus menghadapi itu semua untuk menancapkan satu buah idealisme, banyak tatapan mata yang terpicing dengan keputusan kita, dan yang kita tau bahwa kita harus berjuang lagi dari nol. Dan kita berdua harus menebus hal2 yang sudah hilang selama itu. Tapi kalau nggak sekarang kapan lagi, kata yang paling tepat untuk menghibur mungkin "lebih baik terlambat daripada nggak sama sekali".

Sampai saat ini juga kita masih berjuang, mengerjakan hal yang memang kita senangi, dan hidup dengan cara yang sesuai dengan diri kita berdua. Susah? pastinya susah...terlena dengan segala yang nikmat dan sekarang harus banting segala yang bisa dibanting untuk bisa kumpulin nafkah untuk keluarga...susah memang tapi nikmat..
itu mungkin yang dulu nggak kita dapetin, dulu kata2nya cuma capek titik.
Sekarang susah, capek, tapi nikmat...kata belakang yang bikin semua jadi tiada berharga.

Ada beberapa orang teman yang protes dengan apa yang kita kerjakan, mereka bilang orang yang terlalu idealisme susah idup, susah kaya, susah maju, dll semua statement yang ngancurin semangat bukan justru membangun.
Beberapa minggu lalu...lagi2 gue yang hampir nggak tahan dengan idealisme gue sendiri, dan tergiur dengan tawaran yang akan memposisikan gue dan keluarga gue ke posisi seperti dulu ,masa2 lima tahun yang menyiksa jiwa. Gue ngajak laki gue untuk ikutin sebuah tawaran kerja yang bisa bikin penghasilan dan hidup kita lebih enak dan mudah.

Tapi untungnya suami gue ngingetin gue tentang usaha kita yang lagi membangun sesuatu yang bener2 kita pengen dan sesuai hati kita. "aku nggak bisa janjiin ke kamu kapan proses sampai kita bisa wujudin semua impian kita, kita emang lagi berusaha..sabar yah ma...kalau kamu terima kerjaan itu..sama aja kita kayak dulu, percuma aja apa yang kita usahain beberapa tahun ini...sia2 donk usaha kamu sama aku untuk buktiin ke orang2".

kalimat yang kayak nimpuk gue ditengah malem...
yah memang sih sabar dulu yah...jalanin apa yang kita bisa lakuin semaksimal mungkin dengan sebaik- baiknya, hidup ..alam...sang pencipta toh nggak akan membutakan mata dan menulikan telinga...

Punya idealisme itu nggak ada salahnya kok...cuma idealisme yang bener yah..dan yang pasti idealisme yang bertoleransi hahahahah gimana coba...yah loe coba aja ndiri!!!

0 comments: